PEMUDA PEWARIS NEGERI DAN POTENSI BESARNYA
Pernah atau seringkah anda mendengar,”Ah, saya ini tidak mempunyai bakat apa-apa.”
Atau “Wah, kalau saya pinter nyanyi, bisa kayak Krisdayanti, masuk TV setiap hari.” Atau
“Dia kan memang pinter, makanya jadi juara, keturunan tuh.”
Apa iya ya Allah menciptakan beberapa gelintir manusia tanpa potensi atau bakat apapun ?
Lalu bagaimana dengan ini;
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin:4)
Nah, kalau seperti ini apakah benar-benar ada manusia yang tidak memiliki potensi apa-apa, hingga manusia terkesan hidup sial dan sengsara ? atau hanya manusia yang kurang peka terhadap potensinya hingga tidak ada usaha untuk mengembangkannya ?
Menurut saya, kebanyakan orang berfikir sempit terhadap “potensi”. Potensi; kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan. Krisdayanti dengan potensi menyanyinya, Chairil Anwar dengan potensi seninya, Kenny G dengan potensi musiknya, Agnes Monica dengan potensi akting dance musik dan banyak lagi. Potensi mereka yang nampak sekarang ini tidak tiba-tiba ada sejak lahir. Penemuan bakat serta pengembangan adalah hal penting sehingga mereka tampak di hadapan kita seakan sempurna. Lalu kita ? Mari samakan persepsi kita, jika potensi hanya sebatas menyanyi, menari, bermain musik atau akademis maka akan banyak orang menganggur secara mutlak. Sebelum saya membicara potensi lebih jauh, saya ingin memastikan bahwa anda optimis dengan talenta yang anda miliki, apapun itu.
“Jika prestasi hanya diukur sebatas piala, maka tak akan ada keberhasilan yang sesungguhnya.”
Pertama, sadarkah anda bahwa anda telah banyak beraktivitas menggunakan potensi anda yang luar biasa ? Ya, potensi fisik, salah satu bentuk kekuasaan Allah Yang Maha Pencipta dengan seni yang luar biasa. Teringat pada kisah Nabi Yusuf as yang sangat tampan, hingga ketika para wanita melihat beliau, tanpa terasa mengiris jari mereka. Seberapa tampan ya ? Itulah potensi fisik Nabi Yusuf as, ketampanan. Kemudian, Nabi Muhammad SAW yang memiliki postur tubuh tegap dan kekar, bahkan hingga usia ke-63. “Mu’min yang kuat lebih dicintai daripada mu’min yang lemah.” Tahukah, ketika beliau perang menggunakan baju besi berlapis dua. Besi ? berat bukan ? Itulah potensi fisik Nabi Muhammad SAW yang kuat. Lalu bagaimana dengan potensi fisik kita ? beruntunglah bagi kita yang memiliki kesempurnaan fisik, diberi kemudahan dalam beraktivitas. Dengan demikian semestikan kita mampu lebih produktif daripada hamba Allah lainnya yang diuji dengan kekurangan fisiknya. Jangan justru riya’ karenanya. Bagaimana dengan para aktris dan aktor yang dengan bangganya mengumbar kesempurnaan fisiknya ? Naudzubillah, saudara.
Renungkan, ingat ketika kita menolak perintah ibu kita untuk pergi warung membelikan bumbu dapur ? karena malas tentunya. Bagaimana jadinya jika salah satu atau kedua kaki kita benar-benar tak berdaya untuk melakukannya. Ingat ketika kita enggan menggendong adik kecil kita yang sedang menangis, dengan alasan capek ? Bagaimana jika tangan-tangan kita itu kehilangan jari-jarinya atau bahkan tak sampai jangkauannya untuk meraih suatu benda ? Ingat juga ketika kita menyombongkan kecantikan dan keseksian tubuh atau ketampanan dan kekekaran fisik kita ? Bagaimana jika suatu ketika Allah menguji kita dengan keburukan rupa dan ketidakporposionalan fisik ?
“Jika buruk rupa, kaca kan dipecah. Jika baik rupa, kaca kan disembah.”
Sekali lagi, jangan mengukur prestasi sebatas dengan piala, karena itu hanya akan menimbulkan keinginan untuk dipuji dan dikagumi. Dan ketika pujian dan sanjungan itu tidak ada lagi, kita merasa gelisah akan kehilangan popularitas dan penghargaan orang lain.
“Kemenangan itu bukan diukur dari seberapa banyak orang yang telah kita kalahkan, melainkan seberapa besar kita berguna bagi lingkungan kita.”
Berprinsiplah bahwa potensi fisik kita harus bermanfaat untuk kepentingan syar’i . Karena mengejar puja dan puji manusia di dunia adalah suatu kerugian. Bahkan potensi fisik akan menurun dengan berjalannya usia. Maka manfaatkan potensi fisik semasa muda dengan aktivitas yang berguna bagi orang lain dan lingkungan. Karena, kebutuhan jiwa adalah berguna. Maka berbanggalah dengan kesibukan yang menjadikan kita menjadi manusia yang berguna. Itulah prestasi bagi anda yang mengembangkan potensi fisik dengan “berguna”.
Kedua, yang membedakan manusia dengan makhluk Allah lainnya adalah akal. Ya, manusia memiliki potensi akal yang membedakan dengan tumbuhan, hewan, jin dan malaikat.
Ketika Belanda menjajah Indonesia, mereka menggunakan taktik licik yaitu adu domba yang memecahkan persatuan rakyat Indonesia. Begitu juga dengan Islam hingga sekarang berbagai tipu daya dan akal licik kaum yang ingin memecah belah Islam terus dilakukan, ingat ketika Kuwait dan Irak diadu domba hingga terjadi perang, atau ketika Irak dan iran yang terus didorong agar saling serang. Begitu pula perpecahan partai Islam di indonesia yang merupakan akibat dari adu domba.
“Bangkitlah Pemuda Islam ! Inilah waktumu meluruskan suatu kebengkokan.”
Saya tidak paham ini sebuah kekeliruan atau keegoisan. Ketika banyak pihak asing yang ingin memecah belah persatuan, khususnya persatuan umat Islam yang selalu diirikan, yang ada adalah saling menyalahkan dan mencari pembenaran, bukan kebenaran ! Ketika anda lihat suatu kekeliruan, maka luruskanlah, beri masukan agar lebih baik dan lapangkan hati untuk menerima penolakan. Suatu perbedaan bukan menjadi alasan untuk segera berperang. Disinilah potensi akal manusia dibutuhkan, karena manusia mencintai kedamaian, ketentraman serta kenyamanan maka sudah selayaknya manusia melakukan upaya untuk mewujudkannya. Semua itu bukan kebutuhan individual, semua itu adalah kebutuhan universal yang menjadi tanggung jawab bersama.
“Manfaatkan potensi akal kita untuk menjadi agen perubahan dengan pemikiran cerdas dan realitas.”
Tidak ada manusia bodoh di dunia ini. Karena Allah SWT Maha Pandai, Dia mencintai kecerdasan, itulah sebabnya, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” Dan lebih diperdalam lagi; “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Janji Allah yang tak akan pernah teringkari, Allah akan meninggikan derajad orang yang berilmu.
Jadi yang membedakan potensi akal manusia satu dengan yang lain adalah pemanfaatan dan pengembangannya. Di masa yang penuh dinamika dan kreatifitasnya maka pemanfaatan dan pengembangan akal pemuda harus diperhatikan, mengingat perubahan zaman yang mempengaruhi pola pikir instan para pemuda dan menjadikan mereka menjadi pengejar kesenangan dunia. Pemuda Islam adalah pewaris negeri yang akan menjadi pekerja dakwah bersamanya pula amanah Tauhid diemban. Maka itu dengan potensi pemuda harus berani beraksi untuk berprestasi, prestasi dalam arti berani berdiri dengan bersandar kepada kebenaran yang syar’i. Ketika ada suatu perbedaan dalam tubuh sesama umat Islam, tak semestinya saling menyalahkan, namun berusaha berdamai dengan keadaan dan berlapang dada menerima suatu tentangan. Nabi Muhammad SAW tidak pernah berhenti berdakwah meski kebenaran yang beliau sampaikan selalu ditentang, beliau tidak menggunakan emosinya untuk memaksakan ajarannya. Karena Islam cinta damai.Nabi Muhammad SAW menggunakan potensi akalnya untuk mendamaikan keadaan agar dapat diterima oleh kaum yang memusuhinya.
“Prestasi bukan ketika anda mendapat pujian, melainkan prestasi adalah ketika anda melakukan perubahan.”
Ancaman besar bagi kaum Muslim adalah perpecahan, adu domba dan doktrinisasi oleh musuh Allah laknatullah ‘alaik. Dan pemuda adalah sasaran nyata mereka, karena pemuda adalah pewaris negeri yang mengemban amanah dakwah. Jika mental dan akal pemuda lemah, maka yang akan terjadi adalah perpecahan dalam tubuh umat Islam dan kemenangan para kafirin.
Jangan pernah mengeluh tentang pelajaran anda yang susah, masalah anda yang berat dan kelelahan yang amat sangat. Karena kebiasaan mengeluh membuat potensi otak anda melemah karena tidak mau berfikir. Biarkan otak anda berfikir untuk memecahkan suatu masalah, seberat apapun itu. Karena sebenarnya kita belum maksimal memanfaatkan potensi otak kita. Bahkan Albert Einstein yang jenius baru menggunakan potensi otaknya sebesar ..... %
Bagaimana dengan kita ?
Dari pembahasan yang panjang itu, nampak sekali bahwa kedua potensi itu, potensi fisik dan potensi akal, tidak menjadi jaminan bahwa kualitas diri kita baik. Ketika berparas rupawan atau pandai akademik, seringnya kita lupa bersyukur dan meremehkan orang lain yang pengembangan potensinya tidak sebaik kita. Dan ketika ada suatu perbedaan dengan teman misalnya, seringnya kita menutup mata dengan kebenaran dan mencari pembenaran serta cenderung menyalahkan.
Potensi yang satu ini benar-benar akan menjadi cerminan kualitas diri dan kunci kedamaian yang sesungguhnya.
“Apabila ia baik, maka seluruh tubuhnya akan baik. Apabila ia buruk, maka buruk pula seluruh tubuhnya.”
Saya rasa anda sudah menebaknya, ia adalah qolbu, hati. Jadi teringat dengan lagunya Nasyid Snada “Jagalah Hati.”
Jagalah hati jangan kau kotori, jagalah hati lentera hidup ini. Jagalah hati jangan kau nodai, jagalah hati cahaya Ilahi....
Dari sebuah tulisan seseorang di internet, saya menemukan catatan yang disampaikan oleh Aa Gym, yang mengatakan bahwa hati itu ada 3 macam; Qalbu Maridh (Hati yang sakit), Qalbu Mayyit (Hati yang mati), dan Qalbu Shahih (Hati yang sehat).
Orang yang menderita penyakit hati (Qalbu Maridh) akan tersiksa hidupnya, bukan karena akibat aniaya orang lain melainkan akibat dari segala prasangka dan asumsi abstrak yang dia ciptakan. Saya yakin, diantara kita pasti pernah ada penyakit hati sekecil apapun. Hanya perbedaannya adalah pengendalian kita terhadap penyakit yang menyesatkan ini. Sungguh bahaya. Ketika pikiran tak lagi berorientasi pada realita sehingga sulit menerima kejujuran yang ada. Disinilah perang antara kecintaan kepada Allah SWT dan keinginan menuruti hawa nafsu. Selagi kesempatan masih ada dan potensi masih dapat terus berkembang, kendalikan hati agar menjadi pribadi yang berprestasi, yaitu pribadi yang mampu berkontribusi pada Ghazwul Fikr (perang pemikiran).
Keadaan hati akan membawa keadaan seluruh tubuhnya. Maka, jika hati mati (Qalbu Mayyit) sama dengan tubuh atau jasadnya mati. Saya ingin mengajak anda untuk bernostalgia dengan lagu ini;
Bermata tapi tak melihat, bertelinga tapi tak mendengar, bermulut tapi tak menyapa, berhati tapi tak merasa....
Akibat dari globalisasi, modernisasi. Dalam pelajaran sosiologi pada bab Perubahan Sosial, dijelaskan bahwa akibat dari globalisasi, modernisasi adalah sifat individualistis tinggi. Yang memperparah adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh bangsa asing yang tentunya adalah kaum non-muslim. Keadaan ini menjadi perang pemikiran yang semakin ketat. Dan inilah pemuda area perangmu, potensi akalmu diuji. Ketika hati mati, maka menjadikan jasad mati. Penguasa negeri ini, para peng-gedhe yang ada di deretan-deretan kursi perwakilan-perwakilan rakyat, para pengguni istana berfasilitas VVIP, serta para jutawan-milyader yang bermandikan harta. Mereka hanya akan menjadi jasad yang mati, jika kepekaan sosial serta hati nuraninya tidak terkendali.
Keberuntungan bagi Indonesia yang dijadikan oleh Allah alam yang subur, sumber daya yang melimpah ruah, pergantian musim yang efektif serta wilayah yang strategis. Namun keberuntungan itu tidak membawa pada kemakmuran rakyatnya, mengapa ? ini hanya sebuah perenungan saya. Pemanfaatan dan pengembangan potensi fisik dan akal yang kurang optimal. Inilah ujian berupa kenikmatan yang ternyata menjadikan (hampir semua) manusia Indonesia ketergantungan.
Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu....
Orang bilang tanah kita, tanah surga, tongkat yang jatuh jadi tanaman....
Siapa yang tak iri dengan Indonesia, namun sekali lagi, “Potensi fisik dan akal tidak menjadi ukuran sebuah kebaikan kualitas.” Dan ialah yang jika baik maka seluruh tubuhnya akan baik. Pemuda sebagai pewaris negeri ini, pertajamlah kepekaanmu, karena itu adalah kunci kedamaian serta kemakmuran duniamu. Ketika hati itu mati, yang ada adalah kedzolliman.
“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57)
“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah: 7)
Jagalah kesehatan hati anda, karena tak seorang dokterpun mampu menyembuhkannya.
Hati yang sehat (Qalbu Shahih) menjadikan tubuh yang sehat pula.
Bila hati kian bersih, pikiran pun akan jernih, semangat hidup nan gigih, prestasi mudah diraih, tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk, akhlaq kian terpuruk, jadi makhluq terkutuk. Bila hati kian lapang, hidup susah tetap senang, walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang, tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit, seakan hidup terimpit, lahir batin terasa sakit.
Sepertinya potongan lirik lagu itu cukup mewakili saya untuk mengutarakan tentang Qalbu Shahih. Betapa senangnya hidup ini ketika kita dapat menemukan kedamaian hati serta ketentraman jiwa. Tiada suatu keterpaksaan serta kekecewaan dalam hidup ini yang membawa kita pada penyakit hati yang menggerogi hati kita.
Tiga potensi umum; potensi fisik, akal, dan hati. Jika pemuda pewaris negeri mampu mengoptimalkan pemanfaatan serta pengembangan potensi-potensi dasar di atas, Insya Allah potensi-potensi lainnya akan dapat mencapai keseimbangan yang baik. Bayangkan, bagaimana jika Presiden yang memiliki potensi kepemimpinan itu tidak mampu mengolah potensi fisik, akal dan hatinya. Bisa jadi ia adalah pemimpin yang lemah (fisik), bodoh dan dehumanisasi. Potensi kembangan apapun yang anda miliki jika tidak di kuatkan dengan potensi-potensi dasar di atas, maka hanya akan menjadi suatu pakaian yang tak menghangatkan.
Dan sebelum menuju titik yang terakhir, tetap ingatlah;
“Jangan ukur prestasi hanya sebatas piala, karena prestasi adalah ketika anda mampu menciptakan perubahan.”
Inti dari ketiga potensi dasar itu adalah pengendalian yang membawa kita pada suatu kebijaksanaan. Wahai pemuda, karena kau adalah pewaris negeri, maka kau lah yang membawa bendera kejayaan Islam. Ingat; potensi, berani beraksi dan ukir prestasi.
Saya yakin, pengendalian diri yang baik akan membuat kita menjadi lebih percaya diri. Dan dengan bermodal potensi dasar, tekad perjuangan, aksi mewujudkan, keoptimisan berkreasi serta kepercayaan diri maka tak ada prestasi yang tak mungkin. Tidak ada yang mudah bagi orang yang tidak mau berusaha.
“Karena, ujian dari-Nya adalah pembuktian, siapa yang benar-benar beriman ?”
Semangat adalah ketika letupan itu siap untuk meledak.
Rabu, 25 Januari 2012
PEMUDA PEWARIS NEGERI DAN POTENSI BESARNYA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar