“Seorang mukmin terhadap mukmin yang
lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (HR.
Bukhari – Muslim).
Begitu banyak Hadits Rasulullah SAW yang mengingatkan
kepada umatnya tentang arti persaudaraan. Salah satunya seperti hadits
di atas. Seharusnya, seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya itu
ibarat sebuah bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.
Namun pada kenyataannya, masih saja ada diantara kita yang saling
menyakiti, saling merendahkan, bahkan mungkin saling menjatukan satu
sama lain. Astaghfirullah.. Coba sekali lagi kita ingat firman
Allah:
“… dan (Allah) Dia-lah Yang mempersatukan hati mereka
(orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan)
yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati
mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya
Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal [8] : 63)
Sungguh, memang begitulah adanya. Ukhuwah adalah anugrah
dari Allah yang tak ternilai harganya, walaupun kita membelanjakan semua
kekayaan yang ada di bumi. Karena sungguh, Allah-lah yang dapat
menyatukan hati-hati kita. Lantas, mengapa masih ada saja diantara kita,
umat muslim, yang berselisih?
Bisa jadi selama ini kita merasa diri sudah beriman,
paling shaleh, dan merasa sudah menjalankan sunnah-Nya. Sementara kita
tidak menyadari bahwa sejatinya kita tengah merendahkan martabat sesama
muslim, selalu berprangsaka tidak baik dan menggunjing keburukan saudara
kita. Mungkin kita perlu mengingat kembali sabda Rasulullah saw: “Tidak
beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti
dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim dari
Anas ra). Karena itu, seseorang belum dapat dikatakan bertakwa sebelum
ia mencintai saudaranya. “Teman-teman karib pada hari itu saling
bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS.
az-Zukhruf: 67).
Ada sebuah kisah yang menarik untuk disimak dari riwayat
ini. Dari ‘Itban bin Malik, ia berkata, “Pada sebuah kunjungan, beliau
mengerjakan shalat di rumah kami. Seusai shalat beliau bertanya, “Dimana
gerangan Malik bin ad-Dukhsyum? Ada seorang yang menyahut, “Dia adalah
seorang munafik, tidak mencintai Allah dan Rasulnya!” Rasulullah segera
menegur seraya berkata: “Jangan ucapkan demikian, bukankah kamu
mengetahui dia telah mengucapkan kalimat syahadat La ilaha illallah?
Semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah? Sesungguhnya
Allah telah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan Laa
ilaha illallah semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah.
Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka setiap orang yang
mengucapkan Laa ilaha illallah semata-mata mengharapkan pahala melihat
‘wajah’ Allah.(Muttafaq’ alaih)
Sangat tidak dibenarkan, seorang muslim memberi kesaksian palsu
mengenai perilaku saudaranya yang tidak terbukti kebenarannya.
Sesungguhnya sesama saudara muslim bukanlah rival. Islam
justru mengajarkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul
khairat). Ketika persaingan terjadi, seringkali kita terpeleset,
hingga akhirnya kita menebar cela dan cacat saudara kita, bahkan mungkin
sampai terpikir untuk menghancurkan kredibilitasnya. Naudzubillah..
Mari kita ingat kembali, firman Allah dalam Al-Hujuraat
ayat 11-12: “….Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan
janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk
panggilan adalah (pangilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan
barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai
orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya
sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan
orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian
yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya
yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah,
sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. al-Hujuraat:
11-12).
Sungguh, betapa mengerikan perumpamaan
orang-orang yang menggunjing sebagian yang lain. Bukankah seharusnya
kita menutup segala aibnya di masa lalu? Teringat sebuah hadits,“Barangsiapa
menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan
menghilangkan satu kesusahannya di hari Kiamat. Barangsiapa menutup aib
seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di Hari Kiamat. Allah
selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (HR.
Muslim).
Lantas, bagimana dengan perselisihan yang sering terjadi
di tubuh umat muslim saat ini? Terjadinya konflik juga berbagai
pertentangan hingga mengakibatkan permusuhan diantara sesama kaum
muslimin bisa jadi karena diantara kita lupa akan pegangan yang
sesungguhnya yaitu Qur’an dan Sunah. Bisa juga terjadi akibat dosa salah
satu diantaranya. Langkah yang harus dilakukan adalah intropeksi diri,
mungkin saja perselisihan ini terjadi akibat frekuensi keimanan diantara
umat muslim yang tak sama. Atau mungkin akibat dosa-dosa yang telah
kita lakukan kepada Allah.Astaghfirullah..
Maka, ketika kita melihat perselisihan diantara kaum
muslimin, Rasulullah saw mengajari kita untuk mendamaikan, bukan malah
mengadu domba hingga menjadikan perselisihan semakin hebat. “Takutlah
kamu kepada Allah dan damaikanlah persengketaan diantara kamu itu.” (QS.
al-anfal:1)
Karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
Hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
Tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping
Baca Selengkapnya...