de_er_es's blog

Selamat Datang di Coretan Sederhanaku
IP

Rabu, 02 Januari 2013

Sesama Muslim Bukanlah Rival



Seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya seperti bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain.” (HR. Bukhari – Muslim).

            Begitu banyak Hadits Rasulullah SAW yang mengingatkan kepada umatnya tentang arti persaudaraan. Salah satunya seperti hadits di atas. Seharusnya, seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya itu ibarat sebuah bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain. Namun pada kenyataannya, masih saja ada diantara kita yang saling menyakiti, saling merendahkan, bahkan mungkin saling menjatukan satu sama lain. Astaghfirullah.. Coba sekali lagi kita ingat firman Allah:
“… dan (Allah) Dia-lah Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfaal [8] : 63) 

            Sungguh, memang begitulah adanya. Ukhuwah adalah anugrah dari Allah yang tak ternilai harganya, walaupun kita membelanjakan semua kekayaan yang ada di bumi. Karena sungguh, Allah-lah yang dapat menyatukan hati-hati kita. Lantas, mengapa masih ada saja diantara kita, umat muslim, yang berselisih?

            Bisa jadi selama ini kita merasa diri sudah beriman, paling shaleh, dan merasa sudah menjalankan sunnah-Nya. Sementara kita tidak menyadari bahwa sejatinya kita tengah merendahkan martabat sesama muslim, selalu berprangsaka tidak baik dan menggunjing keburukan saudara kita. Mungkin kita perlu mengingat kembali sabda Rasulullah saw: “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim dari Anas ra). Karena itu, seseorang belum dapat dikatakan bertakwa sebelum ia mencintai saudaranya. “Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf: 67).

            Ada sebuah kisah yang menarik untuk disimak dari riwayat ini. Dari ‘Itban bin Malik, ia berkata, “Pada sebuah kunjungan, beliau mengerjakan shalat di rumah kami. Seusai shalat beliau bertanya, “Dimana gerangan Malik bin ad-Dukhsyum? Ada seorang yang menyahut, “Dia adalah seorang munafik, tidak mencintai Allah dan Rasulnya!” Rasulullah segera menegur seraya berkata: “Jangan ucapkan demikian, bukankah kamu mengetahui dia telah mengucapkan kalimat syahadat La ilaha illallah? Semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah? Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka setiap orang yang mengucapkan Laa ilaha illallah semata-mata mengharapkan pahala melihat ‘wajah’ Allah.(Muttafaq’ alaih)
Sangat tidak dibenarkan, seorang muslim memberi kesaksian palsu mengenai perilaku saudaranya yang tidak terbukti kebenarannya.

            Sesungguhnya sesama saudara muslim bukanlah rival. Islam justru mengajarkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Ketika persaingan terjadi, seringkali kita terpeleset, hingga akhirnya kita menebar cela dan cacat saudara kita, bahkan mungkin sampai terpikir untuk menghancurkan kredibilitasnya. Naudzubillah..

            Mari kita ingat kembali, firman Allah dalam Al-Hujuraat ayat 11-12: “….Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (pangilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. al-Hujuraat: 11-12).

            Sungguh, betapa mengerikan perumpamaan orang-orang yang menggunjing sebagian yang lain. Bukankah seharusnya kita menutup segala aibnya di masa lalu?  Teringat sebuah hadits,“Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari Kiamat. Barangsiapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di Hari Kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

            Lantas, bagimana dengan perselisihan yang sering terjadi di tubuh umat muslim saat ini? Terjadinya konflik juga berbagai pertentangan hingga mengakibatkan permusuhan diantara sesama kaum muslimin bisa jadi karena diantara kita lupa akan pegangan yang sesungguhnya yaitu Qur’an dan Sunah. Bisa juga terjadi akibat dosa salah satu diantaranya. Langkah yang harus dilakukan adalah intropeksi diri, mungkin saja perselisihan ini terjadi akibat frekuensi keimanan diantara umat muslim yang tak sama. Atau mungkin akibat dosa-dosa yang telah kita lakukan kepada Allah.Astaghfirullah..

            Maka, ketika kita melihat perselisihan diantara kaum muslimin, Rasulullah saw mengajari kita untuk mendamaikan, bukan malah mengadu domba hingga menjadikan perselisihan semakin hebat. “Takutlah kamu kepada Allah dan damaikanlah persengketaan diantara kamu itu.” (QS. al-anfal:1)

Karena saat ikatan melemah, saat keakraban kita merapuh
Saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan
Saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai
Aku tahu, yang rombeng bukan ukhuwah kita
Hanya iman-iman kita yang sedang sakit, atau mengerdil
Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja
Tentu lebih sering, imankulah yang compang-camping

Tidak ada komentar:

Posting Komentar