Senin , 31 Desember 2012.
Ini adalah akhir dari tahun 2012. Seperti biasanya, hampir di seluruh kota
besar di Indonesia – bahkan di seluruh dunia – merayakan pergantian tahun ini
dengan gegap gempita dan euforia, begitu juga dengan kota ini (baca: Klaten).
Langit berpijar diterangi warna-warni kembang api. Suasanya riuh dengan tiupan
terompet, petasan, kembang api, tawa dan nyanyian. Suasana dinginnya
malam menjadi sesuatu yang semu ku rasa, menunggu datangnya tahun 2013.
Aku duduk sendiri di sudut taman yang penuh sesak oleh orang-orang yang
ingin menyambut tahun 2013. Ini pertama kalinya aku keluar pada malam
pergantian tahun. Bukan untuk merayakannya, hanya sekedar mengamati apa yang
mereka lakukan di penghujung tahun ini. Semua ini jauh dari diriku, dan jauh
pula dari Islam. Entah mengapa, aku merasa miris dan asing dengan semua ini.
Dalam ketermenunganku, entah mengapa pikiranku terbang ke Gaza. Terlihat
langit Gaza, sama seperti di sini (baca: Klaten), yang berpijar diterangi
warna-warni. Namun berbeda, jauh berbeda, warna-warni itu bukan kembang api
tetapi percikan api misil-misil Zionis. Terdengar pula suara riuh, namun itu
bukan tawa canda tetapi jerit tangis anak-anak dan wanita Gaza. Nyanyian tahun
baru pun menjadi suara deru pesawat. Suara terompet Gaza adalah suara ambulans
yang membawa korban dan jenazah. Suara menggelegar Gaza bukan lagi petasan,
tetapi gemelegar bom, mortir, dan rentetan senapan Zionis la`natullah.
Gaza, tak ku lihat seorangpun tersenyum di sana, tak juga diriku. Semuanya
begitu jelas, para pejuang itu bersimbah darah, tergeletak di tepi jalan.
Anak-anak menangis dan wanita-wanita menjerit. Semua terbungkus dalam debur
asap serangan Zionis. Asap menutupi seluruh Gaza dan mengantarku pulang ke
Yogyakarta.
Semuanya terlihat begitu nyata, hingga saat aku sadar air mata sudah
mengalir di pipiku. Menyesakkan. Aku ingin pulang meninggalkan tempat ini. Di
sini kembang api yang mewarnai langit, tapi di Gaza percikan api misil lah yang
mewarnai.
"Musik tahun baru kami adalah deru pesawat tempur, kembang api
tahun baru kami adalah percikan-percikan sinar dari misil-misil Zionis."
(Raed Samir, pemuda Gaza)
Untuk saudaraku di Palestina, maafkan kami yang baru bisa sekadar mendoakan
dan menyisihkan sedikit harta kami. Semoga Allah memberikan kekuatan, ketabahan
dan kesabaran kepada kalian hingga kemenangan begitu manis terasa oleh umat
ini.
Rabu, 02 Januari 2013
Tahun Baru(ku) di Gaza
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar